19 Nov 2010

Lihat Langit, Meteor Leonid Kembali Datang!

Hujan meteor tahunan ini akan mencapai puncaknya pada Kamis 18 November 2010.

 

Peta penampakan Meteor Leonid (StarDate|Space.com)

 Fenomena menarik akan kembali terjadi di langit.  Yakni, pertunjukkan hujan meteor Leonid yang akan terjadi minggu ini.

Hujan meteor tahunan ini akan mencapai puncaknya pada Kamis 18 November 2010. Di langit yang cerah, bisa terlihat 15-20 meteor per jam berjatuhan dari Rasi Leo.

Menurut ahli, waktu terbaik untuk mencoba melihat Leonid pada dua atau tiga jam terakhir sebelum matahari terbit.

"Dari waktu Bulan tenggelam sampai pukul 05.15. Saat fajar mulai muncul, langit akan gelap tanpa Bulan. Interval ini adalah kesempatan terbaik melihat meteor Leonid," kata pengamat langit, Joe Rao, kepada Space.com

Tak perlu menggunakan alat khusus untuk menyaksikan fenomena ini. Cukup dengan mata telanjang.

Namun, pastikan Anda tetap hangat dan nyaman. "Jika punya, gunakan kursi taman yang punya sandaran. Ini akan mencegah leher Anda kaku dan memudahkan melihat langit malam," kata Rao.

Hujan meteor Leonid adalah fenomena tahunan yang terjadi tiap pertengahan November. Hujan meteor ini disebabkan material yang ditinggalkan komet Tempel Tuttle ketika lewat dekat orbit Bumi selama perjalanan reguler melintasi tata surya.

Hujan meteor spektakuler dipicu oleh  gas dan debu yang terbakar di atmosfer.

Setiap 33 tahun, saat material padat komet Temple Tuttle memasuki atmosfer, Bumi akan dihiasi hujan meteor menyilaukan. Ratusan bahkan ribuan meteor terlihat dalam waktu sejam. Itu terakhir terjadi pada 2002 lalu.

Terkadang juga terjadi badai meteor Leonid. Pada 1966 merupakan badai meteor terbesar dengan jumlah sekitar 150.000 meteor per jam.

Menurut Rao, pemandangan spektakuler seperti itu tak terjadi tahun ini. Sebab, Bumi hanya dilewati material kurang padat dari Komet Temple Tuttle.

Namun, Leonids diperkirakan tetap mempertahankan reputasinya, menampilkan pemandangan meteor yang mengesankan.

Dengan jumlah meteor yang lebih sedikit tahun ini, para pengamat langit diimbau mau menempuh perjalanan sedikit untuk menemukan tempat terbaik.

"Lokasi yang sejauh mungkin dari lampu-lampu kota. Di taman atau di tempat-tempat gelap lainnya," demikian saran para editor majalah StarDate di Observatorium McDonald di Texas.
• VIVAnews

Bayi Lubang Hitam Ini Bisa Melahap Bumi

 Lubang Hitam itu diperkirakan berjarak sekitar 50 juta tahun cahaya dari Bumi
 
Gambar supernova suatu galaksi dari pantauan telekop NASA (AP Photo / NASA)
Para astronom baru-baru ini menemukan fenomena di luar angkasa, yang mereka yakini sebagai lahirnya suatu "Lubang Hitam" hasil dari ledakan suatu bintang (supernova) lebih dari 30 tahun lalu. Lubang itu sangat rakus dan menelan apa yang ditemui, termasuk benda luar angkasa sebesar Bumi.

Demikian ungkap Avi Loeb, seorang astrofisikawan dari Universitas Harvard yang bekerjasama dengan Badan Antariksa AS (NASA), Senin 15 November 2010. Loeb mengungkapkan bahwa kemunculan Lubang Hitam itu hasil dari ledakan suatu bintang yang pertama kali ditemukan pada 1979.

Ledakan itu cukup besar untuk menimbulkan suatu lubang hitam. Tim astronom meyakini itu sebagai Lubang Hitam karena konstan melumat sisa-sisa bintang yang meledak. Itulah ciri-ciri Lubang Hitam, menghisap apa saja yang ada di depannya.

Menurut Loeb, dalam 30 tahun terakhir sejak supernova, bayi Lubang Hitam ini telah menelan benda yang massanya setara dengan Bumi. Menurut kantor berita Associated Press (AP), temuan Loeb dan rekan-rekannya ini dipublikasikan dalam suatu makalah yang dimuat di jurnal "New Astronomy."

"Dia [lubang hitam itu] ibarat pemakan planet dalam film 'Star Trek,'" kata ahli astrofisika dari NASA yang juga rekan Loeb, Kimberly Weaver, seperti dikutip AP. Lubang hitam itu begitu padat sehingga tidak ada unsur apapun - termasuk cahaya sekalipun - yang bisa lolos.
 
Dengan menggunakan pantuan teleskop milik NASA, Chandra X-Ray, dan teleskop-teleskop lain, Lubang Hitam itu diperkirakan berjarak sekitar 50 juta tahun cahaya dari Bumi dan terletak di salah satu galaksi Virgo, demikian menurut laman harian The Los Angeles Times.  

"Lubang Hitam ini berukuran sekitar lima kali lebih besar dari matahari kita dan bintang yang meledak yang memunculkan benda itu kemungkinan 20 kali lebih besar dari matahari kita," kata Dan Patnaude, peneliti dari Harvard.

Dengan situasi saat ini, Lubang Hitam yang bernama ilmiah SN 1979C itu bisa membesar dua kali lipat dalam 40 juta tahun mendatang. "Benda ini memakan sebanyak yang dia bisa...mirip dengan remaja atau anak kecil," kata Patnaude. Tim peneliti yakin bahwa benda yang mereka temukan itu kemungkinan besar adalah Lubang Hitam.
Dalam ilmu astronomi, benda kosmik ini bukanlah sebuah lubang dalam arti harafiah, tetapi merupakan sebuah wilayah di mana hampir semua unsur tidak dapat lolos karena memiliki gaya gravitasi yang sangat besar.
 Temuan Planet HIP 13044b memberi gambaran nasib masa depan Bumi dan tata surya.
 
Gambaran tentang planet alien, HIP 13044b (ESO/L. Calçada)
 
Para astronom telah mengkonfirmasi temuan planet alien (asing) di Galaksi Bima Sakti yang datang dari galaksi lain. Namanya, Planet HIP 13044b yang mengorbit bintang tua, HIP 13044.

Planet mirip Yupiter ini sebenarnya lahir di galaksi lain, namun kemudian ditangkap oleh Bima Sakti sekitar 6 sampai 9 miliar tahun yang lalu. Efek samping dari kanibalisme galaksi membawa sebuah planet yang dulunya jauh kini berada dalam jangkauan para astronom untuk kali pertamanya.

Planet ini ditemukan oleh tim astronom dari Max-Planck-Institut fur Astronomie (MPIA), Heidelberg, Jerman. Tim peneliti meneliti pergerakan HIP 13044 menggunakan teleskop di sebuah observatorium di selatan Eropa,  La Silla Observatory di Chile.

Setelah enam bulan pengamatan, mereka meneteksi gerakan-gerakan kecil yang melawan tarikan gravitasi planet yang mengorbit.

Yang membuat bangga, astronom asal Indonesia, Johny Setiawan didaulat jadi pemimpin proyeknya.

"Bagi saya, itu adalah kejutan besar," kata pemimpin tim, Johny Setiawan dari MPIA, speerti dimuat SPACE.com, 18 November 2010.  "Kami tidak mengharapkan itu pada awalnya."

Tim peneliti yang dipimpin Johny Setiawan membeberkan hasil observasinya secara online dalam situs Science  edisi 18 November.

Ukuran planet ini  25 persen lebih besar dari Jupiter. Ia mengorbit bintang HIP 13044  yang jaraknya 2.000 tahun cahaya dari Bumi di konstelasi Fornax.

Planet HIP 13044b berada sangat dekat dengan bintangnya itu. Jarak terdekat dengan bintang induk sekitar 8 juta kilometer atau 5,5 persen jarak Bumi dan Matahari. Planet menyelesaikan orbit setiap 16,2 hari.

HIP 13044b selamat dari fase penuaan bintang -- yang juga akan dialami Matahari sekitar 5 miliar tahun lagi.

Penemuan ini memaksa para astronom memikirkan kembali ide-ide mereka tentang formasi planet dan kelangsungan hidupnya.  Apalagi, ini adalah planet pertama yang ditemukan mengelilingi bintang yang sangat tua dan miskin logam.

Johny setiawan memperkirakan, nanti, saat Matahari memasuki fase penuaan, menjadi raksasa merah, Bumi mungkin tak akan selamat.

"Planet-planet dalam, termasuk Bumi, mungkin tidak akan bertahan hidup," kata Johny Setiawan.

"Tapi Jupiter, Saturnus dan planet-planet luar mungkin pindah mendekat ke orbitnya, persis seperti yang kami deteksi."

Dalam kasus HIP 13044b, planet ini adalah korban yang selamat. Namun, ia tak akan hidup selamanya. Sebab, bintang induknya akan terus berkembang dalam tahap evolusi berikutnya. Planet ini akan tertelan.

Sekilas tentang Johny Setiawan

Johny Setiawan adalah astrofisikawan muda asal Indonesia yang bekerja di Max Planck Institute for Astronomy (MPIA), Jerman. Hebatnya, ia orang non-Jerman yang dipercaya sebagai ketua tim proyek.

Pria kelahiran Jakarta, 16 Agustus 1974 ini menamatkan S-1 dan S-3-nya di Freiburg, Jerman.
Sebelumnya, engan teleskop 2,2 meter di La Silla, Cile, Johny berhasil menemukan planet baru: HD 11977 B. Planet ini berjarak 200 tahun cahaya dari bumi . Planet berukuran 6,5 kali Jupiter ini mengitari bintang raksasa HD 11977A. Sebelum merilis temuannya, Mei lalu, Setiawan memelototi bintang itu sejak 1999.

Sebelumnya, pemuda kelahiran Jakarta, 16 Agustus 1974, ini juga menemukan dua bintang raksasa baru, HD 47536B dan HD 122430B, pada 2003.